Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  “Istimewa” adalah sebuah homonim karena artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Intinya, Istimewa berarti lain dari pada yang lain atau luar biasa.

Jadi Jika Alumni Arun disebut istimewa, kurang lebih maknanya adalah; Alumni Arun berbeda dengan alumni lain?

Baik, kita tarik benang merahnya dulu.

Menurut Ensiklopedia bebas, kata alumni, jamaknya Alumnus  adalah pria wanita lulusan sebuah sekolah, perguruan tinggi / universitas atau suatu tempat baik itu mantan anggota, karyawan, kontraktor, kontributor dan lain-lain,  Jadi kita ini disebut Alumni Arun karena lulusan sekolah di PT Arun atau siapa saja yang pernah berhubungan dengan PT Arun.

Misalkan kita mengacu pada kegiatan alumni sekolah lain yang menggelar acara, seperti Reuni Akbar SMAN 1 ‘Boedoet’ Jakarta bulan Juli 2017 yang baru lalu, dihadiri oleh minimal 10.000 Alumni. Wajar, jika alumninya berjumlah ratusan ribu orang karena sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1950, sedangkan perguruan Tamansiswa Arun baru ada jauh setelahnya. Terjadi tiga kali perubahan yayasan pendidikan, Tamansiswa (1980-2002), Yapena (2002 – 2011) dan sejak tahun 2011 berubah menjadi sekolah Modal Bangsa. Bersumber pada data sekolah, dari tahun 1983 – 2007 tercatat ada 4.553 alumni. Jadi selama kurun waktu 24 tahun tidak mencetak banyak alumni, mungkin karena sekolah bukan untuk umum, Alumni Arun (Baca : Anak Arun)  menjadi istimewa. keistimewaan pertamanya adalah; Tidak semua orang bisa sekolah di Arun.

Kedua, Alumni Arun heterogen dalam sosial, karena berasal dari berbagai daerah. Bhineka Tunggal Ika yang walau berbeda tapi tetap satu, di mana karyawan PT Arun berasal ada yang dari Jawa, Sunda, Sumatera, Kalimantan dan suku asli daerah Aceh sendiri yang melahirkan generasi baru, lalu berbaur seolah terjadi suku baru, bisa disebut Suku Arun. Jadi tidak heran jika ada alumni yang logat nya ‘medhok’ Jawa tapi tidak bisa bahasa Jawa padahal mbah nya orang Jawa. Faktanya Anak Arun generasi millenium (lahir dan dibesarkan di Arun tahun 2000 an) merasa kampung halamannya adalah Komplek PT Arun.

Tanpa kita sadari, kehidupan di lingkungan Arun yang ekslusif dan terkesan tertutup telah kehilangan bahasa aslinya sehingga muncul istilah-istilah sendiri yang akar nya tidak diketahui lagi sumbernya tapi sudah bercampur antara bahasa resmi, bahasa gaul dari berbagai daerah dominan seperti Aceh, Melayu, Jawa dan Sumatera, misal untuk menyatakan kekesalan atau makian bersifat gaul memakai istilah “Kimbek” padahal konotasinya negatif, tapi mungkin jarang ada yang tau artinya sebenarnya. Katanya “Ah, kimbek kali kau..”

Masih banyak istilah kata atau kalimat lain yang terdengar asing bagi orang tapi tidak buat Anak Arun, seperti;

Penger (untuk istilah bodoh), kulok (kampungan), Cak kow tree dulu (Coba dulu),  kiban / Cam mana (Bagaimana), Alahai (Jiahh), Pantengong (bego), Melalak (keluyuran), Golek-golek (Tidur-tiduran, ngaso), Ku kipas (libas) nanti kow (pukul), mantab (keren), paten (top), Aah manada (tidak mungkin), Men cewek (pacaran), Pajak (pasar), Labi-labi (Angkot), BE (Bireun Express, jenis angkutan mini bus), Boss (orang tua), Boss Cewek (ibu), Boss Cowok (Bapak), Omak Jang (takjub) dll, kosa kata akan terus bertambah dan kosa kata lama tetap masih digunakan. Kayaknya untuk ke depan perlu dibuatkan kamus gaul Anak Arun.

Istimewa Ketiga, Anak Arun sejahtera.

PT Arun Natural Gas Liquefaction, lebih dikenal dengan PT Arun NGL adalah perusahaan pengolahan gas alam yang berlokasi di Blang Lancang, Kota Lhokseumawe. Pada masanya, kilang Arun merupakan salah satu perusahaan penghasil LNG terbesar di dunia sehingga berdampak pada kehidupan sosial ekonomi bagi karyawan dan keluarga dengan fasilitas yang luar biasa. Sarana pendukung yang mumpuni, mulai dari sarana ibadah, olah raga, gedung kesenian bahkan sekolah, rumah sakit, sarana transportasi, komunikasi dan perumahan dinikmati secara gratis sehingga tidak heran jika dibanding masyarakat lain, Anak Arun tumbuh lebih sehat, lebih berprestasi, lebih pintar, terlihat cantik dan ganteng-ganteng,  walau ada juga beberapa yang bebal dan bandel. Bagi yang jeli dan bisa memanfaatkan fasilitas sebagai peluang penunjang keberhasilan maka ia akan melaju dengan pesat dan berhasil dengan mantab.

Kemegahan dan kemewahan Arun memicu kecemburuan sosial bagi orang yang  tidak seberuntung Anak Arun sehingga sering terdengar suara-suara sumbang, misalkan jika alumni Arun yang melanjutkan sekolah atau kuliah ke luar daerah terkesan sombong, angkuh, arogan dan SPT (sok paten). Ya, tidak dipungkiri, mayoritas demikian adanya karena latar belakang keberhasilan orangtua yang juga tiba-tiba ‘wah’ diwariskan kepada anak-anaknya, tertanam sejak dini sehingga tidak sedikit alumni terlena, terlanjur manja dan sayangnya jika menjadi kurang siap bersaing di dunia yang lebih nyata di luaran sana. Dengan tamat nya riwayat kemegahan Arun tempo dulu, semoga kita mampu membuang ‘Chip’ negatif Arun, perbanyak instrospeksi dan menjadi lebih cool, jadi nggak usah dipermasalahkan.

Jadi dari beberapa uraian tersebut di atas dapat disimpulkan kenapa Alumni Arun istimewa yang artinya beda dengan alumni lainnya, al;

  1. Anak Arun berasal dari satu sekolah yang sama dan dalam jangka waktu lama, ada yang pernah dalam satu sekolah sejak TK sampai SMA. Kita saling kenal dengan baik, dia anak siapa, adik siapa tinggal dimana dst dst yang secara emosional masing-masing kita menjadi lebih dekat
  2. Dikarenakan latar belakang daerah yang berbeda lalu kita bersosialisai dalam jangka waktu yang sangat lama sehingga muncul rasa kebersamaan yang lebih kental dan menjadi lebih akrab
  3. Kesejahteraan telah mengantarkan produk Anak Arun lebih unggul, baik wawasan, kesempatan dan peluang sehingga mayoritas anak Arun lebih sukses.

 

Orientasi dari ketiga faktor tersebut, lalu apa yang bisa kita perbuat? Jika dihitung kurun waktu dari periode tahun 1980 sampai 2017, rentang waktu 37 tahun tentu harusnya sudah banyak yang bisa diperbuat.

 

Alumni Arun yang sudah pinter, titelnya sdh berderet-deret, nge TOP, sudah jadi pejabat dan ahli pikir serta jago-jago bidang lainnya yang berada diberbagia belahan dunia, mari berkontribusi, menyelamatkan Anak Arun sebagai produk regenerasi, pelaku dan saksi sejarah bahwa Arun dulu pernah ada dan kita buat sesuatu yang bermanfaat bagi semuanya, amin. Selamat berkarya, jaya selamanya. Caww.

 

Oleh : T. Musri MD (Arun’89)