Oleh : Evi Susanti Syam

Ia menyeka keringatnya dengan daster batiknya yang sudah tak nampak warna. Lusuh. Sekali-kali dia nampak memejamkan matanya, pasrah akan keadaan. Sudah tujuh hari ini dia tidak membuat kue dan menitipkannya ke warung-warung kopi seputaran tempat tinggalnya.

“Kalau tidak buat kue..ya tidak ada uang”, ujarnya pahit. Kembali pikirannya menerawang mengingat biaya hidup untuk menghidupi empat orang anaknya  yang masih usia sekolah. Suaminya hanya bisa duduk di rumah semenjak kakinya mengalami kelumpuhan 7 tahun lalu.

Sebut saja dia Bu Hasni, yang menggantungkan hidupnya dari kue-kue dagangannya sebagai teman minum kopi. Dinginnya udara pagi yang masih menggigil, balutan selimut lembut   dan mata yang masih enggan untuk di buka harus terpaksa ia singkirkan jauh-jauh rasa itu. Ratusan kue-kue jajanan pasar seperti  bingkang, lapis ubi, dadar gulung, timpan (kue tradisional Aceh yang dibuat dari labu kuning yang dimasak diadon dengan tepung ketan dengan inti kelapa di dalamnya), semua telah tertata rapi dalam sebuah wadah putih siap di antar ke warung-warung terdekat.

Hal yang sama juga dialami Asmuni,  pekerja bidang pertamanan ini biasa membersihkan taman di wahana permainan air yang saban hari ramai dikunjungi warga. Terlebih hari Sabtu dan Minggu banyak orangtua yang membawa anak-anaknya untuk bermain di kolam renang sambil rekreasi makan siang bersama.

“Tutup tahun ajaran biasa sekolah-sekolah mengadakan perpisahan dengan mengadakan berbagai acara di sini”, ujarnya. Tapi apa daya bulan-bulan mereka mestinya “panen” harus ditutup sementara waktu akibat virus corona ini.  Mata pencahariannya dari hasil membersihkan taman dan merawat bunga-bunga serta membersihkan kolam renang harus berhenti karena wahana ini harus menerapkan sistem LOCK DOWN, tidak boleh ada arena kumpul-kumpul untuk memberhentikan penyebaran virus corona ini.

Corona virus kecil yang tak nampak oleh mata namun dapat mengguncang dunia. Istilah asing pun digaungkan mulai dari stay at home, work from home, social distancing atau lock down yang terasa asing di telinga mereka (kalangan menengah ke bawah). Akan tetapi tetap saja permasalahan yang dihadapi bangsa ini pun semakin komplek, penyebaran virus yang sedemikian cepat dan meluas menyebabkan mereka yang berpendapatan harian terdampak secara ekonomi dan sosial. Berdiam diri di rumah sama dengan menanggung lapar.

Mereka para pekerja informal hanya bisa berharap pandemik virus corona (covid-19) segera berakhir sehingga mereka bisa mengais rezeki demi menafkahi keluarga. Tak hanya mereka semua berharap agar dunia yang sakit ini segera pulih kembali.

Foto : Internet